Waktu itu jam menunjukkan pukul 11 siang lebih. Artinya jam pulang sekolah masih satu jam lagi. Diluar hujan deras, sebenarnya aku ingin sekali main perahu kertas diatas genangan air sdekat halaman sekolah. Tapi masih jam pelajaran, dan itu sungguh bikin mata ingin terpejam.
Iya waktu itu aku duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Rambutku diikat ekor kuda menjuntai ke belakang. Sederhana dan biasa saja. Satu hal yang aku ingat di siang itu adalah aku tidak membawa payung. Yang jelas, aku tau kalau pulang hujan-hujanan omelan ibu pasti akan terdengar sampai rumah tetangga.
Aku hanya mengamati air hujan yang turun dari kaca kelas. Tiba-tiba, aku dipanggil salah seorang guru untuk keluar ruangan. Kamu tau apa?
Iya, ibuku datang ke sekolah hanya untuk mengantarkan payung. Sungguh jika mengingat hal ini, aku tidak kuasa menahan tangis. Yang kutahu segalak-galaknya ibu, dialah perempuan yang sangat nampak rasa cintanya untukku.
Ibuk bukan perempuan yang memakai celana atau rok, tapi kain sederhana orang jawa. Ada yang menyebutnya samping, ada yang menyebutnya jarik batik. Ya seperti itulah ibu, selalu nampak canti dimataku dan dihatiku.
Apa yang aku lihat siang itu, aku tahu kain ibu sudah basah. Ibu cuma pesan pulang jangan hujan-hujanan, seraya menyerahkan payung. She the best mom ever and ever. Senyum mengembang seraya berpamitan pada guru didekatku. Lantas aku masuk kedalam kelas.
Padahal kalau aku ingat, jalan dari rumah menuju sekolah itu jauh. Meski sudah beraspal, tapi menanjak, turunan, melewati sawah-sawah, kebun, dan tidak selalu ramai jalanannya. Padahal aku tahu siang itu ibu juga pasti tengah masak untuk makan siang. Mungkin juga sedang menunggu suaminya pulang dari sawah.
Masa-masa seperti inilah yang justru membuatku semakin mengingat bahwa aku mempunyai harta yang tidak semua orang punya. Kasih-sayang seorang ibu yang tulus. Dekapan keluarga yang hangat dalam keramaian.
Sore ini Jakarta mendung, semoga hatimu tidak ya bu.
Aku merindu hari-hari didekatmu.
Iya waktu itu aku duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Rambutku diikat ekor kuda menjuntai ke belakang. Sederhana dan biasa saja. Satu hal yang aku ingat di siang itu adalah aku tidak membawa payung. Yang jelas, aku tau kalau pulang hujan-hujanan omelan ibu pasti akan terdengar sampai rumah tetangga.
Aku hanya mengamati air hujan yang turun dari kaca kelas. Tiba-tiba, aku dipanggil salah seorang guru untuk keluar ruangan. Kamu tau apa?
Iya, ibuku datang ke sekolah hanya untuk mengantarkan payung. Sungguh jika mengingat hal ini, aku tidak kuasa menahan tangis. Yang kutahu segalak-galaknya ibu, dialah perempuan yang sangat nampak rasa cintanya untukku.
Ibuk bukan perempuan yang memakai celana atau rok, tapi kain sederhana orang jawa. Ada yang menyebutnya samping, ada yang menyebutnya jarik batik. Ya seperti itulah ibu, selalu nampak canti dimataku dan dihatiku.
Apa yang aku lihat siang itu, aku tahu kain ibu sudah basah. Ibu cuma pesan pulang jangan hujan-hujanan, seraya menyerahkan payung. She the best mom ever and ever. Senyum mengembang seraya berpamitan pada guru didekatku. Lantas aku masuk kedalam kelas.
Padahal kalau aku ingat, jalan dari rumah menuju sekolah itu jauh. Meski sudah beraspal, tapi menanjak, turunan, melewati sawah-sawah, kebun, dan tidak selalu ramai jalanannya. Padahal aku tahu siang itu ibu juga pasti tengah masak untuk makan siang. Mungkin juga sedang menunggu suaminya pulang dari sawah.
Masa-masa seperti inilah yang justru membuatku semakin mengingat bahwa aku mempunyai harta yang tidak semua orang punya. Kasih-sayang seorang ibu yang tulus. Dekapan keluarga yang hangat dalam keramaian.
Sore ini Jakarta mendung, semoga hatimu tidak ya bu.
Aku merindu hari-hari didekatmu.


Komentar
Posting Komentar