Aku selalu menyukai kebaikan seseorang. Sekecil apapun itu, aku suka dan aku menghargainya.
Sebenernya aku bukan tipe yang selalu punya banyak teman. Justru malah terkadang aku hanya ngobrol dengan satu anak aja, atau terlalu sering menyendiri.
Bukan aku tidak ingin bergaul, tapi dulu aku tidak punya daya untuk bisa mudah berbaur dengan teman-teman yang lainnya.
Aku nggak menganggap itu sebagai bullyan, tapi mungkin pelajaran yang dibungkus sebagai sebuah ujian.
Pernah waktu itu takut untuk pergi ke sekolah, dan ibuk yang mengantarkan sampai depan gerbang. Padahal itu aku ingat, masih ada kakak laki-lakiku di kelas enam. Ya memang tidak dekat, aku hanya tau dia kakakku, dan bahkan untuk pulang sekolah bareng saja sepertinya tidak pernah.
Pernah waktu itu takut untuk pergi ke sekolah, dan ibuk yang mengantarkan sampai depan gerbang. Padahal itu aku ingat, masih ada kakak laki-lakiku di kelas enam. Ya memang tidak dekat, aku hanya tau dia kakakku, dan bahkan untuk pulang sekolah bareng saja sepertinya tidak pernah.
Oke waktu itu setelah turun dari angkutan aku pamitan dan bersalaman. Aku malu karena berangkat kesiangan. Aku tidak pernah berangkat sekolah hingga halaman sudah ramai dipenuhi anak-anak.
Aku ingat betul waktu itu. Berseragam merah putih, masih kelas dua SD, rambut diikat ekor kuda, membawa payung kecil karena itu dalam masa musim penghujan. Aku lari dari gerbang tapi tersandung. Naas, dengkulku lecet, seragamku sedikit kotor, dan lebih menyakitkannya lagi semua anak yang melihat tertawa dan tidak ada yang membantuku.
Sesampai di kelas masih banyak anak yang meledekku, hingga aku tidak berani bersuara dan diam hingga pelajaran tiba.
Belum sampai disitu juga ujianku.
Belum sampai disitu juga ujianku.
Selepas istirahat jam sekolah, aku ijin pada guru kelas untuk ke toilet. Padahal aku ingat jaman kelas dua dulu toilet masih bernuansa lama, gelap, dan aku sendirian.
Aku mengunci dari dalam, dan setelah selesai urusanku di toilet tiba-tiba pintu tidak bisa dibuka. You know what I feel? Takut, deg-degan, bingung, ingin nangis, aku gedor-gedor pintu tapi mungkin tidak ada orang lewat.
Akhirnya aku beranikan diri untuk memanjat bak toilet dan mengintip dari celah ventilasi toilet, berpikir ada satu anak yang lewat dan bersedia membukakan pintu. Entah sudah berapa menit aku didalamnya, dan sudah pasrah.
Tiba-tiba, ada suara didekat pintu. Ada satu anak laki-laki yang membukakannya, seraya mengatakan kenapa bisa dikunciin, aku hanya menjawab tidak tahu dan mengucapkan terimakasih, dan kembali ke kelas. Sampai hari ini aku tidak tahu siapa nama anak yang membukakan pintu toilet waktu itu. Pokoknya aku sangat sangat berterimakasih.
Sesampai di kelas, guru menanyakan padaku kenapa lama sekali. Dan aku hanya menjawab sakit perut bu.Seraya lima anak perempuan itu melirikku seolah-olah tertawa puas.
Tidak sampai disitu juga, sepulang sekolahnya aku jalan sendiri dan langkah didepanku lima anak tadi. Tidak perlu aku sebutkan namanya, yang jelas satu adalah masih sepupuku, satu lagi anaknya teman baik ayahku. Aku mengingat hal itu.
Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Tapi langkah mereka yang tadinya cepat berangsur lambat dan pelan. Aku mengira jika mereka ingin mengajakku pulang bersama. Tapi tidak.
Tepat didekat sawah milik pak Kosim yang akan ditanami padi, mereka mendekatiku dan mendorongku kearah sawah yang berair itu. Seragamku bukan cuma basah, tapi kotor terkena tanah. Aku menangis, betul betul menangis. Dan mereka justru menertawainya.
Sedangkan sesampainya dirumah, ibu hanya tersenyum dan menyuruhku mandi seraya ganti baju.
Saat makan siang, ibu menanyakan apa yang terjadi dan aku hanya menjawab tidak apa-apa, hanya terjatuh.
Saat makan siang, ibu menanyakan apa yang terjadi dan aku hanya menjawab tidak apa-apa, hanya terjatuh.
Dan aku menahan tangis di pelupuk mataku.
Jika teringat akan hal itu, aku tidak tahu bagaimana perasaan ibu kala itu mengetahui anaknya diperlakukan kurang baik oleh beberapa temannya. Mungkin lebih dari perih, dan ibu menahan perih itu dengan tetap tersenyum padaku. Padahal aku tahu ibu lebih dari bawel, lebih dari galak , tapi ibu adalah cinta Tuhan yang paling nyata wujudnya.
Setelah kejadian itu, besoknya aku sakit. Ini sungguhan sakit, aku demam tinggi, mungkin memang diuji sakit.
Tapi aku bersyukur, seab hari itu aku terbebas dari mereka.
Dan dari kisah itu aku bisa mengambil pelajaran bahwa anak-anak mungkin masih kurang mengenal makna pertemanan. Aku tidak memasukkannya ke hati, aku hanya menjadikan hal itu sebagai pelajaran bahwa aku mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Buktinya sekarang setiap kali bertemu mereka, atau salah satu dari mereka akan saling memeluk dan menanyakan kabar.
Kelima anak tersebut sudah menikah, dan aku belum. hehehe
Yakin pada setiap kesabaran ada kebaikan didalamnya. Ada pelangi setelah hujan reda.
Jakarta, Juli 2017
Semoga kalian selalu baik-baik saja dalam rizki yang cukup dan kebahagiaan menyertai kita semua.


Komentar
Posting Komentar