I don't know you, but I want you to know
Selalu ada langit tak berwarna
dan perempuan yang menulis di bawah langit seperti itu.
- Avianti Armand
Patah hati mana yang tak menyakitkan? Melupakan seperti apa yang mudah? Terlebih kadang ada saja seseorang yang namanya begitu membekas dalam ingatan. Mungkin juga nama dia dalam benakmu, yang dulu singgah dalam relung hatimu-- bukan sekedar singgah, hampir menetap mungkin.
Mungkin seperti yang pernah aku katakan pada diriku, bahwa tak ada yang bisa menghapus kenangan seseorang dalam diri kita, yang ada hanyalah mau atau tidaknya diri membiasakan ketiadaanya setelah mungkin dulu sering bersama berbagi suka cita dan tawa.
Kalau orang bilang February adalah bulan kasih sayang, mungkin saja iya. Yang awalnya aku sama sekali ngga ada pikiran untuk menyambut hati seseorang, namun mungkin waktu menakdirkan untuk memperbaiki hati dari diam menjadi periang (lagi).
Selalu butuh proses untuk mengenal, dan kemudian mengerti. Bagian dari sulitnya diri membuka hati adalah asumsi yang lebih dulu muncul sebelum benar-benar ada kata sapa dalam tatap muka. Tapi untuk kali ini akhirnya aku berani mengiyakan, bagai salam yang bersambut. Tentu saja aku bahagia.
Mungkin aku dan dia sama-sama memiliki masa lalu yang berantakan. Tapi bukankah masih ada waktu untuk saling merapikan?
Mungkin juga aku dan dia sama-sama memiliki cerita tentang patah hati. Tapi bukankah masih ada hari untuk saling membahagiakan dan mencari suatu arti?
Kesempatan untuk bahagia sebenarnya selalu ada bagi siapapun manusia yang ingin bangkit dari keterpurukannya. Hidup kadang bukan lagi proses mencari ketika ditakdirkan dalam pertemuan. Melainkan saling menerima kekurangan dan saling menghargai masing-masing kelebihan. Tanpa memperdebatkan siapa yang paling suci, dan siapa yang paling baik di muka bumi ini.
Kalau kamu bisa membuka diri, kenapa aku tidak? Kalau kamu bisa membagi cerita, aku bisa lebih daripada itu. Kalau kamu bisa menjadi pendengar yang setia, aku pastikan telingaku tidak mau lelah mendengarkan celotehanmu kapanpun itu.
Halo, selamat datang orang yang mungkin akan tau seperti apa baik dan buruknya aku. Semoga aku tidak menjadi beban bagimu sejak hari ini, sampai nanti.
Aku mau mengenal kamu. Ingin tahu lebih jauh lagi seperti apa dunia di matamu, seperti apa mimpi-mimpimu, seperti apa hal-hal yang membuatmu bisa tertawa lepas tanpa beban.
Aku tidak memiliki apa-apa, aku juga tidak tau hal apa yang bisa dibanggakan dari diriku. Aku juga tidak tahu apa kedua orang tuaku bangga telah melahirkan aku ke dunia ini, dan atau teman-temanku bangga punya teman yang menyebalkan sepertiku?
Yang aku bisa adalah menunjukkan siapa aku dengan kejujuran, tanpa perlu menutupi bahwa aku sendiri memiliki banyak sekali kekurangan.
Selamat datang, semoga kau dan aku menjadi seseorang yang satu (tujuan).
Jakarta, 18 Feb 2019
Kalau orang bilang February adalah bulan kasih sayang, mungkin saja iya. Yang awalnya aku sama sekali ngga ada pikiran untuk menyambut hati seseorang, namun mungkin waktu menakdirkan untuk memperbaiki hati dari diam menjadi periang (lagi).
Selalu butuh proses untuk mengenal, dan kemudian mengerti. Bagian dari sulitnya diri membuka hati adalah asumsi yang lebih dulu muncul sebelum benar-benar ada kata sapa dalam tatap muka. Tapi untuk kali ini akhirnya aku berani mengiyakan, bagai salam yang bersambut. Tentu saja aku bahagia.
Mungkin aku dan dia sama-sama memiliki masa lalu yang berantakan. Tapi bukankah masih ada waktu untuk saling merapikan?
Mungkin juga aku dan dia sama-sama memiliki cerita tentang patah hati. Tapi bukankah masih ada hari untuk saling membahagiakan dan mencari suatu arti?
Kesempatan untuk bahagia sebenarnya selalu ada bagi siapapun manusia yang ingin bangkit dari keterpurukannya. Hidup kadang bukan lagi proses mencari ketika ditakdirkan dalam pertemuan. Melainkan saling menerima kekurangan dan saling menghargai masing-masing kelebihan. Tanpa memperdebatkan siapa yang paling suci, dan siapa yang paling baik di muka bumi ini.
Kalau kamu bisa membuka diri, kenapa aku tidak? Kalau kamu bisa membagi cerita, aku bisa lebih daripada itu. Kalau kamu bisa menjadi pendengar yang setia, aku pastikan telingaku tidak mau lelah mendengarkan celotehanmu kapanpun itu.
Halo, selamat datang orang yang mungkin akan tau seperti apa baik dan buruknya aku. Semoga aku tidak menjadi beban bagimu sejak hari ini, sampai nanti.
Aku mau mengenal kamu. Ingin tahu lebih jauh lagi seperti apa dunia di matamu, seperti apa mimpi-mimpimu, seperti apa hal-hal yang membuatmu bisa tertawa lepas tanpa beban.
Aku tidak memiliki apa-apa, aku juga tidak tau hal apa yang bisa dibanggakan dari diriku. Aku juga tidak tahu apa kedua orang tuaku bangga telah melahirkan aku ke dunia ini, dan atau teman-temanku bangga punya teman yang menyebalkan sepertiku?
Yang aku bisa adalah menunjukkan siapa aku dengan kejujuran, tanpa perlu menutupi bahwa aku sendiri memiliki banyak sekali kekurangan.
Selamat datang, semoga kau dan aku menjadi seseorang yang satu (tujuan).
Jakarta, 18 Feb 2019


Komentar
Posting Komentar