Aku bisa merasakan kembali, hangat yang menepi diantara lajur waktu malam sebelum aku menjumpai mimpi.
Terlintas wajahmu kian jelas melewati garis mataku yang tinggal beberapa centi, mengalah untuk terbuka atau pasrah untuk memejam.
Seutas senyum tiba-tiba diam di kepala. Rasa ingin dekat, dan ingin banyak bicara terhadapmu semakin nyata. Apa kau juga sama? Aku menerka.
Jam dinding kian melaju menuju pukul tiga. Mataku masih terus menyala. Bak lilin zaman tua yang tak cepat habis dimakan panas yang mengitarinya.
Detak jantungku, menguat tatkala ku pertama kalinya mendengar kau rindu.
Setelah itu aku tersenyum.
Apa daya, peluk tak sampai jua. Sebab jarak masih melingkar dan berjajar.
Aku disini, dan kau disana.
Dalam peraduan waktu yang masih setara, rindu itu hidup tiba-tiba.


Komentar
Posting Komentar