Seharusnya aku lebih mengerti soal luka dan patah hati dari rasa yang sebelumnya. Tetap saja, aku menggunakan hati setelah bisa menyayangi. Kalau sudah gini, salah siapa? Apa mu dikata?
Yang tulus menyayangi aku, adalah diriku. Seharusnya sayang hanya sebatas sayang, tanpa ada harapan yang lain lagi.
Mungkin sebaiknya aku pergi, harus lebih faham bahwa diam berarti meminta mundur tanpa perkataan.
Setelah ini, aku harus kembali berusaha berdamai dengan dunia dan hari yang sebelumnya sungguh aku cintai.
Bisa jadi aku mungkin hanya pelarian sesaat kala kamu merasa kesepian. Bisa jadi pula, aku memang tidak pernah dianggap siapa-siapa.
Rindumu yang kemarin, hanya balasan kata untuk tak menyakitiku. Sedang aku harus kembali berusaha tegar menuntaskan perasaan yang tak terbalaskan.
Aku tak akan pernah menjadi apa yang kau harap, dan kau mungkin harus segera ku kembalikan pada asal muasal hati tertutup kala itu.
Jika perlu menutupnya kembali, aku mungkin bisa. Rasanya patah hati itu biasa, sakitnya tak seberapa dengan luka yang harus dirawat sendiri.
Aku suka sekali melihat kamu tertawa, beda dengan sikapmu yang kerap membuatku bertanya maumu apa?dan aku harus bagaimana?
Aku senang sekali melihat dirimu tersenyum, tingkahmu yang menyebalkan, segala tingkah yang kerap membuatku kesal. Sesudahnya, aku mungkin tak mengerti aku dimatamu siapa?
Sebatas teman? sebatas teman cerita? atau aku hanya pendengar ceritamu kala kamu membutuhkan?
Hei---- ternyata sudah sejauh ini aku mengharapkan. Seharusnya aku tak terlampau menggunakan perasaan. Dan mau tak mau, sesuai katamu aku harus menyayangi tanpa ada rasa memiliki.
Kamu benar--- kamu bukan milikku.
MilikNya seutuhnya.
Yang tulus menyayangi aku, adalah diriku. Seharusnya sayang hanya sebatas sayang, tanpa ada harapan yang lain lagi.
Mungkin sebaiknya aku pergi, harus lebih faham bahwa diam berarti meminta mundur tanpa perkataan.
Setelah ini, aku harus kembali berusaha berdamai dengan dunia dan hari yang sebelumnya sungguh aku cintai.
Bisa jadi aku mungkin hanya pelarian sesaat kala kamu merasa kesepian. Bisa jadi pula, aku memang tidak pernah dianggap siapa-siapa.
Rindumu yang kemarin, hanya balasan kata untuk tak menyakitiku. Sedang aku harus kembali berusaha tegar menuntaskan perasaan yang tak terbalaskan.
Aku tak akan pernah menjadi apa yang kau harap, dan kau mungkin harus segera ku kembalikan pada asal muasal hati tertutup kala itu.
Jika perlu menutupnya kembali, aku mungkin bisa. Rasanya patah hati itu biasa, sakitnya tak seberapa dengan luka yang harus dirawat sendiri.
Aku suka sekali melihat kamu tertawa, beda dengan sikapmu yang kerap membuatku bertanya maumu apa?dan aku harus bagaimana?
Aku senang sekali melihat dirimu tersenyum, tingkahmu yang menyebalkan, segala tingkah yang kerap membuatku kesal. Sesudahnya, aku mungkin tak mengerti aku dimatamu siapa?
Sebatas teman? sebatas teman cerita? atau aku hanya pendengar ceritamu kala kamu membutuhkan?
Hei---- ternyata sudah sejauh ini aku mengharapkan. Seharusnya aku tak terlampau menggunakan perasaan. Dan mau tak mau, sesuai katamu aku harus menyayangi tanpa ada rasa memiliki.
Kamu benar--- kamu bukan milikku.
MilikNya seutuhnya.


Komentar
Posting Komentar