Titik & Koma
Hari kian panjang. Malam terasa sebentar. Hari semakin sulit. Dunia terasa sempit.
Ada jiwa-jiwa yang masih setia berharap dengan doanya. Ada jiwa-jiwa yang menyerah, lalu menyelesaikan hidupnya.
Dan aku? Hampir.
Mungkin tidak sekali atau dua kali aku menyesal akan lahir ke dunia. Tangis sepanjang malam, sesak, dengan lebih parahnya aku sendirian.
Namun, lagi dan lagi hatiku tersadar. Aku masih mempunyai harapan untuk hari esok.
Dua puluh lima tahun yang terlalu menyakitkan. Aku masih saja iri dengan perhatian-perhatian kecil yang orang lain terima. Sedang aku mungkin entah berapa lama, hanya mengandalkan peluk dekap bayangan sendiri, dan kalimat semua akan baik-baik saja. Kujadikan itu sebagai mantra. Tidak demikian, aku kerap tersadar dan terbangun, bahwa mungkin saja aku berada di tempat ini sampai hari ini adalah berkat doa sepasang manusia yang mencintaiku dalam diam, dengan khusyuk doanya.
Aku mulai sadar akan sesuatu. Pencapaian usia sekian yang tak seberapa. Alih-alih soal kaya, memiliki sesuatu yang bisa ditunjukkan. Untuk bahagia saja, aku kerap berpura-pura. Aku menutupinya dengan haha hihi dan ketawa setiap kali bercerita dengan mereka. Aku menutupinya dengan, iya aku baik-baik saja dan tidak lupa untuk selalu tertawa.
Tidak ada yang tahu, satu minggu mungkin hanya sisa dua hari aku tidak menangis. Ada saja hal kecil yang membuatku berasumsi buruk. Lagi-lagi, pikiranku kembali mengarah pada Kebesaran Tuhan. Aku harus selalu berprasangka baik, dengan demikian kebaikan pula akan mengikutiku.
Terima kasih,
sudah bertahan sampai hari ini :)



Komentar
Posting Komentar